Belajar dan Gagal, Dua Hal Yang Selalu Bersandingan

 Sejak pertama kali anak membuka mata di dunia, dia sudah memiliki kemampuan belajar. Hal ini merupakan anugrah Tuhan yang hanya diberikan kepada manusia yang merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna. Bayi lahir di dunia tentu menangis, dan itu cara dia belajar. 

Seiring berjalannya waktu bayi yang awalnya hanya belajar dengan cara menangis, dia akan mempunyai kemampuan belajar lain, seperti merespon suara, menanggapi rangsangan dari luar dirinya, menggigit, mengunyah, dan juga memfungsikan organ-organ geraknya. 

Dalam tumbuh kembang anak, mereka akan melakukan Pembelajaran-pembelajaran. Tentunya berlangsungnya pembelajaran anak tidak akan berhasil dalam sekali tindakan, namun anak akan melakukannua berkali-kali sampai mereka merasa puas dan berhasil sesuai dengan keinginannya.  

Dalam proses belajar, satu dua kali bahkan berkali-kali anak akan mengalami kegagakan, terjatuh saat belajar berjalan, salah memasukkan makanan ke lubang hidung, dan berbagai macam kegagalan lainnya. Hal tersebut merupakan hal yang sangat wajar terjadi dalam proses belajar. Sebuah pembelajaran tidak akan berhasil dengan sekali uji coba, layaknya sulap yang sekali dikatakan bimsalabim Abakadabra, langsung jadi sesuai dengan keinginan. Tidak seperti itu. Pembelajaran adalah serangkain proses yang berulang-ulang kali dilakukan dan berkelanjutan, dan tentunya akan menjumpai kegagalan-kegagalan. 

Sebagai orang tua atau pendidik, kita wajib mengetahui makna dari pembelajaran dan kegagalan, agar kesempatan kita akan terjauhkan dari rasa takut, khawatir dari kegagalan atau luka yang dialami anak saat proses belajar. Jangan sampai kita terlalu overprotective terhadap anak, sehingga anak tidak dapat melangkah, tidak dapat belajar, dan nantinya akan menghambat keberhasilan dan kesuksesan anak. Jadilah orang tua pendidik yang bijak, yang selalu memberikan motivasi dan arahan kepada anak-anak kita.


Selamat belajar dari kegagalan 😉

Komentar